Tersebutlah air dan minyak. Suatu hari, air tanpa sengaja bertemu minyak. Dan oleh karena keadaan, mereka harus bekerja sama dan ditempatkan di 1 wadah. Dalam kerja sama ini, air melihat dan merasakan betapa sulitnya bekerja sama dengan minyak. Minyak keras, selalu ingin diatas, dan selalu berusaha menunjukkan dirinya. Sedangkan air, terpaksa harus mengalah dan selalu berada dibawah tekanan minyak. Air berusaha terus menerus mengerti dan memahami minyak, tapi justru sebaliknya, minyak tidak pernah mau melihat, mengerti dan memahami air.
Hingga suatu saat, air merasakan, kalau ia mulai menyukai minyak. Ia terbiasa oleh semua kelebihan dan kekurangan minyak. Disaat banyak org2 mengatakan bahwa minyak keras kepala dan lainnya, air berusaha menjelaskan dan membela minyak. Disaat org2 menjauhi minyak karena takut akan sifat keras dan pengaruhnya, air justru tetap tidak meninggalkan minyak selangkahpun. Disaat org2 mulai bertanya, mengapa air bisa tidak melihat dan merasakan sisi negative minyak, air hanya tersenyum dan menjawab : cobalah bersama minyak, maka kau akan tahu bahwa kelebihannya lebih banyak dari keburukannya.
Waktu terus berlalu. Air tetap setia dan menemani minyak. Disaat minyak keras, air mengalah. Disaat minyak sedih, air berusaha menghiburnya. Disaat minyak melirik dan berusaha mendekati air diwadah lain, air hanya bisa berdoa untuk keberhasilan dan kebahagiaan minyak, walau hatinya sedih. Disaat minyak marah dan menyebabkan seluruh wadah tercampur kotor, air berusaha tenang, sampai minyak mereda dan kembali tenang. Disaat miyak berulang tahun, ia berusaha menyenangkan minyak. Disaat minyak berkali-kali pindah dan dekat dengan air diwadah lain, dan tidak menghiraukan air lagi, air hanya bisa menangis dan berdoa untuk minyak. Dan selalu…minyak kembali ke air. Dan selalu, air menerima kembali minyak dan kembali bersama-sama bekerja sama lagi. Sebaliknya, air tidak pernah sekalipun melihat dan mencoba mendekati minyak di wadah lain. Disaat orang-orang mulai membicarakan dan memberitahukan air tentang sisi buruk dan masa lalu minyak, air dengan lantang membela minyak. Air tidak pernah percaya. Air hanya percaya pada minyak. Air dengan yakin berkata, bahwa air bisa menerima seluruh kekurangan minyak. Disaat minyak membutuhkan bantuan , air tanpa diminta, seberat dan sesulit apapun, akan berusaha membantu minyak tanpa pamrih dan mengeluh. Bahkan air sering diam-diam membantu minyak, tanpa minyak sadari. Begitulah seterusnya. Hari berganti hari. Itulah hari-hari yang dilalui air. Terkadang, air bisa sangat-sangat baik pada air, tapi suatu saat, minyak bisa berubah total dan menyakiti air. Tapi air menerimanya dengan rela dan bahagia. Karena didalam hati air yang paling dalam, ia menyimpan 1 harapan, bahwa minyak akan berubah, memahami dan menyadari kehadiran diri air disisinya….
Waktu terus bergulir. Tanpa terasa, kebersamaan air dan minyak, sudah melewati puluhan ribu jam. Dan air, tetap seperti dulu. Sedangkan minyak, tetaplah minyak, sulit ditebak sikap dan sifatnya. Air justru semakin sayang pada minyak. Ia berjanji, walau apapun yang terjadi, ia akan terus membantu, bekerja sama, dan bersama-sama minyak, walaupun minyak tetap tidak bergeming dan menyadari arti air bagi dirinya. Entah berapa air mata dari air yang menetes demi minyak. Air tetap tidak bergeming. Hatinya sudah terpatri pada minyak. Hingga suatu saat, terjadi hal besar, dimana air akhirnya harus memilih dan dikeluarkan dari wadah. Hatinya hancur. Tapi demi minyak, air rela melakukannya.
Apa yang terjadi selanjutnya? Air kehilangan segalanya. Air kehilangan kepercayaan diri. Air terus menerus dirundung sedih dan rindu akan minyak. Tapi minyak sekalipun tidak pernah menengok atau menanyakan kabar air. Air semakin limbung. Ia mencoba untuk masuk ke wadah lain, dan bekerja sama dengan susu, tapi air tetap merasakan bahwa minyaklah yang terbaik. Air tidak bisa lepas dari bayang-bayang minyak. Air pernah mencoba untuk kembali ke wadah, tapi minyak menolaknya. Air tidak pernah menyangka, minyak akan seperti itu terhadap dirinya. Tapi air tetaplah air. Ia tetap menyayangi dan memahami minyak. Tidak dendam sedikitpun. Justru sayangnya bertambah pada minyak.
Walaupun air sudah tidak bersama minyak, air tetap tidak sedikitpun meninggalkan minyak. Ia diam-diam tetap melihat dan memperhatikan situasi didalam wadah. Tidak jarang jika ia mendengar orang lain bicara tentang hal yang akan merugikan minyak, air segera memberitahu minyak. Minyak tetaplah minyak, ia tetap tidak bergeming dan hanya mengucapkan terima kasih pada air. Air pun tidak mempermasalahkan, karena ia rela melakukannya demi minyak. Minyak berterima kasih atau tidak , tidaklah penting bagi air. Hingga suatu saat, diwadah minyak, datanglah air baru. Air pun merasa sudah tersisih. Tapi ia tidak bersedih. Ia justru berdoa, semoga air yang baru bisa bekerja sama lebih baik dengan minyak.
Air pun memulai kehidupannya sendiri. Membersihkan dirinya pelan-pelan dari bayangan minyak. Dengan susah payah, air bisa sedikit demi sedikit, melupakan minyak. Walau terkadang sulit, karena rasa rindu pada minyak yang menderanya. Suatu hari, air dikejutkan oleh kedatangan keluarga minyak. Mereka meminta air, untuk membantu mereka, karena mereka mendengar kabar burung tentang minyak diluar sana. Air mati-matian membela minyak, dan bertekad menunjukkan pada semua orang, bahwa anggapan buruk mereka tentang minyak, adalah salah. Lama kelamaan, air seperti kembali ke kehidupan minyak. Hatinya yang sudah tenang, kembali bergolak. Kenangan dan harapan bersama lagi dengan minyak kembali muncul. Disaat keluarga minyak meyakinkan air, bahwa hanya airlah yang bisa memahami dan mendampingi minyak, air justru semakin takut, karena ia tahu, minyak selamanya tetaplah minyak, tidak pernah sekalipun menyadari kehadiran air. Akhirnya disuatu kesempatan, air kembali bertemu minyak. Hatinya senang dan bahagia , walau hanya melihat minyak sebentar saja. Semua rindu dan rasa kangen, hanya bsia air simpan didalam hatinya sendiri.
Tapi..semua yang air lakukan, justru adalah awal kesedihan baru. Keluarga minyak, dengan pelan namun pasti, mulai berkata, bahwa air tidak pantas untuk minyak. Air terlalu rendah kadarnya untuk bersanding dengan minyak. Bahkan, air harus menerima kenyataan bahwa teman baiknya sempat sangat dekat dengan minyak. Bukan kepalang sedihnya air. Selama ini, ia memang menyimpan harapan untuk bersanding dengan minyak, namun ia tidak menyangka, bahwa apa yang sudah dilakukannya demi minyak, tetap tidak bisa merubah posisi dan keadaan. Air terluka. Air harus terus menerus menekan perasannya sendiri dan berpura-puar bahagia. Keluarga minyak melukainya terus menerus. Walau halus, keluarga minyak terus membandingkan air dengan air-air lain. Air dianggap tidak pantas bersama dengan minyak. Air akhirnya tidak kuat dan menangis tersedu-sedu. Disaat ia sedih, untunglah air masih memiliki teman-teman yang setia menghiburnya.
Hingga suatu hari, air mendengar kabar, bahwa air diwadah minyak melakukan kesalahan , tidak tahan dan akhirnya keluar dari wadah. Saat itu, minyak barulah teringat akan air. Ia pun dengan segera meminta air kembali ke dalam wadah. Bahkan minyak meminta air membantunya. Air semula sangat bahagia dan segera mulai membantu minyak.Tapi, pada akhirnya, air ragu. Ia teringat masa-masa dulu ia bersama minyak. Apakah ia bisa melewati masa-masa itu lagi sekarang? Apakah dirinya sekuat dulu menghadapi semua hal tentang minyak? Apakah ia setabah dulu? Apakah ia bisa mengesampingkan perasaannya pada minyak?
Akhirnya, air memutuskan untuk tidak kembali ke dalam wadah. Ia memberanikan diri, untuk mengungkapkan perasaannya pada minyak. Ia tahu, kemungkinan, minyak tidak akan mau mendengarkannya. Tapi ia mecobanya. Dan…benar. Minyak tidak memberikan jawaban. Air sangatlah sedih. Tapi,itulah kenyataan, dan air berusaha menerimanya. Disaat ia benar-benar sedih, ia memberanikan diri bertanya pada minyak, apakah minyak tahu perasaannya? Minyak justru menjawab dengan perkataan yang menggantung. Hancur sudah hati air. Tapi, rasa cintanya pada minyak mengalahkan segalanya. Ia rela membantu minyak habis-habisan tanpa pamrih. Dan seperti biasa, minyak tetap tidak bergeming dan bahkan tidak mengucapkan kata apapun saat air selesai membantunya. Bukan hanya sekali saja air membantu minyak, tapi minyak justru tidak perduli dan sama sekali tidak menoleh atau sekedar memberikan dukungan pada air. Padahal, yang semua air lakukan , adalah membantu minyak…tanpa pamrih…tanpa imbalan…tulus.
Air mulai dihinggapi sakit hati. Ia sakit diperlakukan seperti itu terus menerus. Bukan hanya minyak, tapi keluarga minyak pun sama, memperlakukan dan hanya memperalat dirinya disaat dibutuhkan.
Tanpa pamrih, tanpa tanda jasa, tanpa diketahui. Air terima semuanya. Air simpan semuanya dihatinya sendiri rapat-rapat. Ia ingin mengatakan pada semua orang, pada minyak, bahwa ia rela dan bersedia menerima minyak apa adanya, tanpa menyesal. Tapi, air tidak pernah mendapatkan kesempatan itu. Hingga akhirnya, air jatuh sakit. Ia tidak bisa berpikir jernih. Ia tergolek lemah. Dan minyak serta keluarganya……tidak peduli padanya. Akhirnya, air berusaha bangkit dari keterpurukkan. Air berusaha menata kembali semangat dan kepercayaan dirinya yang hancur karena minyak.
Sekarang air sudah mulai sembuh….tapi…bagaimanakah akhir kisa air dan minyak nantinya? Apakah minyak akan menyadari semua yang telah air lakukan demi dirinya? bisakah mereka bersatu? Atau takdir-----air dan minyak selamanya tidak bisa bersatu?
HANYA TUHAN YANG TAHU…MUNGKIN, SUATU SAAT…AKAN INDAH PADA WAKTUNYA…INDAH PADA AKHIRNYA……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar